SUARA LANTANG KINI DIPERJUAL-BELI
Segelas kopi ku seduhkan pagi ini
tidak lupa juga segulung tembakau yang diracik oleh yang ahli,
aku memandang langit biru yang tampak berkilau di pagi ini
kiri dan kanan terlihat semua insan kegirangan menyambut fajar pagi,
Sebelah kiri terlihat orang miskin tersenyun untuk memulai bekerja dengan sepenuh hati demi kebutuhan hidup sehari-hari
Tampak di sebelah kenan para kaum elit mengenakan baju kemeja serta dasi berbondong-bondong mengejar angin menggunakan transportasi.
Lihatlah, ibu pertiwi sedang menangis,tak tau apa penyebab nya yang pasti menandakan kondisi yang tidak baik.
Ternyata oh ternyata, terlihat dari jauh sekelompok aktivis berlari dan menjerit
Berteriak sekeras-keras nya hingga menangis lalu memohon agar diberi belas kasih oleh sang penguasa dan kaum elit.
Apakah Yang Terjadi ?
Mereka para tikus-tikus berdasi seolah-olah tidak punya tanggungjawab sebagai pemangku jabatan di negri ini,
Apakah mereka tidak memiliki hati nurani?
Lihatlah, pemuda-pemudi saat ini yang mengaku aktivis tak lagi kritis melainkan krisis dalam berpikir,dengan iming-iming mendapatkan posisi, suara lantang mereka kini diperjual-beli.
Katanya demi rakyat, tapi kok mala demikian?
Para penguasa tidak lagi memikirkan bagaimana nasib rakyat di negri ini tapi mereka berlomba-lomba membangun Dinasti, terus-menerus menebar janji seolah-olah hadir sebagai orang suci dan mengemis kepada rakyat agar dipilih.
Menyebut diri pembawa sejahtera di negri ibu pertiwi. Oh, Bullshits.
Kembali menyeduhkan segelas kopi untuk meredakan tangisan hati,
Hari kian semakin sunyi
Angin sepoi-sepoi menampar dedaunan yang terlihat kering.
Jika esok dapat bertemu lagi,
surat ini akan terus dikirimi kepada sang ilahi.
malang, 31 mei 2021
oleh : penaduabelas

Komentar